Mini Report: A Comparative Study of the Deep Meanings Behind Traditional Indonesian Building Forms

Selasa, 16 Desember 2025 | 02:40:40 WIB
Rumah Panggung Bajo / Foto: Istimewa

Jakarta - Arsitektur Nusantara adalah ilmu dan seni arsitektur yang berkembang di wilayah Indonesia, mencerminkan kekayaan budaya, tradisi, dan kearifan lokal (Asla, 2025). Menurut Prasetyo karakter dari arsitektur ini meliputi penggunaan material alami seperti kayu dan bambu, bentuk atap khas seperti joglo dan limasan, serta desain yang sederhana namun fungsional untuk menyesuaikan kondisi iklim tropis dan lingkungan sekitar. 

Arsitektur Nusantara tidak hanya sebagai tempat tinggal atau bangunan, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya dan sosial masyarakat lokal. Dalam kaitannya dengan tradisi, arsitektur Nusantara sangat dipengaruhi oleh berbagai kepercayaan dan budaya yang ada di daerah-daerah di Indonesia. Misalnya, rumah adat di berbagai daerah tidak hanya berfungsi sebagai bangunan, tapi juga sebagai wadah pelestarian tradisi dan filosofi hidup masyarakat tersebut (Jefri Ardi, 2024). 

Bentuk dan ornamen bangunan sering mengandung makna simbolik yang terkait dengan adat dan ritual lokal. Akulturasi budaya juga terlihat pada bangunan tempat ibadah seperti masjid yang menggabungkan elemen tradisional Nusantara dan pengaruh asing, misalnya atap bertingkat ala Jawa yang menyerupai candi Hindu-Buddha (Sabono, 2017).  

Dengan demikian, arsitektur Nusantara tidak hanya dilihat sebagai hasil karya fisik, tetapi juga sebagai cerminan dari tradisi, pandangan hidup, dan kearifan lokal masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta (al Khoriah, 2022).

Riset ini dilatarbelakangi oleh keinginan memahami dan melestarikan warisan budaya yang terkandung dalam arsitektur Nusantara, yang kaya akan simbol, filosofi, dan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun (Asla, 2025). Penelitian ini juga bertujuan menggali makna-makna simbolik dan filosofi yang terkandung dalam bentuk bangunan adat dan struktur tradisional, sehingga dapat memperkaya ilmu pengetahuan dan mendukung upaya pelestarian warisan budaya (Jefri Ardi, 2024).

Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui studi literatur berupa artikel ilmiah, buku digital, karya arsitektur, dokumen budaya, dan sumber online. Penelitian juga memanfaatkan dokumentasi visual seperti foto dan video bangunan tradisional untuk memahami proses dan tradisi pembangunan rumah adat (al Khoriah, 2022). 

Dengan metode online ini, penelitian tetap mampu menggali makna tradisi dan karakteristik arsitektur Nusantara secara komprehensif meski tanpa observasi lapangan langsung (Prasetyo, 2017).

A. Rumah Panggung Bajo

Tradisi dalam pembangunan rumah panggung Bajo biasanya diawali dengan ritual adat yang melibatkan tokoh masyarakat (sanro), panre bola (ahli bangunan), dan upacara pemilihan waktu yang dianggap baik (musyawarah dan ramalan). Kepercayaan masyarakat Bugis menempatkan rumah sebagai pusat energi spiritual, sehingga ada aturan ketat tentang penentuan lokasi dan arah rumah agar selaras dengan alam dan leluhur.

Ritual penting lainnya adalah penanaman tiang rumah, yang melambangkan tiga tingkat alam menurut kepercayaan Bugis: dunia bawah, dunia manusia, dan dunia atas (alam roh). Tiang-tiang ini juga melambangkan kestabilan sosial dan spiritual. Sebelum mendirikan rumah, dilakukan berbagai persembahan untuk menghindari malapetaka serta menjaga keharmonisan dengan alam sekitar.

Selain itu, rumah panggung Bajo dibuat dengan konstruksi tanpa paku, melambangkan fleksibilitas dan kekuatan hidup masyarakat yang berakar kuat namun lentur terhadap perubahan. Rumah ini juga menjadi simbol status sosial dan keharmonisan keluarga dalam masyarakat Bugis, memperkuat ikatan sosial melalui penggunaan ruang dan fungsi tradisionalnya.

Gambar 1. Rumah Panggung Bajo

B. Rumah Panggung Tongkonan

Rumah Tongkonan dimulai dengan ritual adat yang melibatkan persembahan babi dan kerbau sebagai simbol kesyukuran dan permohonan kepada roh leluhur dan dewa pelindung. Ritual ini bisa berlangsung dari satu hingga lima hari, tergantung strata sosial pemilik rumah, dengan upacara lebih panjang untuk bangsawan dan menengah, serta lebih singkat untuk rakyat biasa.

Tradisi pembangunan rumah ini sangat menekankan gotong royong, yang mencakup musyawarah untuk menentukan lokasi, pengumpulan kayu, pembuatan ukiran, hingga penyelesaian konstruksi. Kayu utama yang digunakan adalah kayu Uru, yang dikenal kuat dan tahan lama hingga ratusan tahun. Atap rumah yang menyerupai perahu melengkung melambangkan perjalanan hidup dan perlindungan, sedangkan tanduk kerbau yang dipasang di tiang utama merupakan simbol status sosial serta keberhasilan pemilik rumah dalam upacara adat.

Selain itu, rumah Tongkonan juga digunakan sebagai tempat musyawarah dan berkumpulnya keluarga besar, memperkuat ikatan kekerabatan dan hubungan sosial masyarakat Toraja. Filosofi rumah ini menekankan harmoni antara manusia, alam, dan leluhur sebagai inti kehidupan masyarakat Toraja yang dijaga melalui tradisi dan ritual yang sakral.

Gambar 2. Rumah Panggung Tongkonan

C. Rumah Panggung Moronene

Dalam tradisi pembangunan rumah, struktur dan ornamen memiliki makna budaya dan simbol status pemilik. Rumah Mokole (raja atau bangsawan) memiliki bubungan melengkung menyerupai tanduk kerbau, dilengkapi tali ijuk sebagai hiasan khas yang tak sembarangan ditambahkan, menunjukkan hierarki dan kedudukan sosial. Tangga rumah juga memiliki variasi ornamen dan jumlah undakan yang mengikuti aturan adat.

Kepercayaan masyarakat Moronene melekat pada rumah adat sebagai tempat yang sakral, yang memerlukan ritual dan upacara khusus dalam pendirian dan penggunaannya, seperti ritual Mo’oli Wonua (pembersihan tanah), Mobeli Wonua (pembelian tanah), dan Montewehi Wonua (pemeliharaan bumi) yang mencerminkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Ritual tersebut bertujuan untuk menjaga keharmonisan alam dan keselamatan penghuni rumah.

Selain itu, rumah adat Moronene berperan sebagai pusat budaya dan sosial dalam masyarakat, menjadi tempat berkumpul, berkomunikasi, dan melestarikan adat istiadat yang diwariskan turun-temurun. Rumah ini juga menjadi simbol jati diri dan keberlangsungan budaya Moronene, yang diupayakan terus dilestarikan melalui pembangunan dan pengelolaan yang sesuai dengan standar tradisional.

Gambar 3. Rumah Panggung Moronene

Discussion


Tradisi arsitektur ini menegaskan bahwa rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal tetapi juga sebagai ruang sakral yang menjadi pusat upacara, kekerabatan, dan pelestarian budaya. Penggunaan material lokal dan adaptasi bentuk bangunan terhadap lingkungan menunjukkan kearifan dalam memanfaatkan sumber daya alam dan menanggapi perubahan iklim tropis.

Pendekatan tradisional ini selaras dengan teori arsitektur yang menempatkan manusia sebagai pusat harmoni sosial dan ekologis, dan menegaskan bahwa desain arsitektur tidak boleh terlepas dari konteks sejarah, budaya, serta nilai spiritual yang mendasarinya. Melalui tradisi dan simbolisme ini, arsitektur Nusantara mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan alam, serta menumbuhkan identitas kolektif yang kuat.

Dengan demikian, pembangunan dan pelestarian rumah adat harus memperhatikan akar tradisi untuk menjaga nilai-nilai luhur sekaligus menginspirasi solusi desain berkelanjutan di masa depan. Namun, pada saat ini kebanyakan orang-orang mulai melupakaan tradisi dalam membangun suatu rumah, mereka menganggap tradisi bersifat opsional karena tidak sesuai keyakinan pribadi, dan orang-orang saat ini lebih mengutamakan modernitas. 

Padahal filosofi dan tradisi adalah warisan budaya yang harus dihormati dan dijaga dalam pengembangan arsitektur modern agar tidak kehilangan jati diri dan makna sosialnya.

Conclusion

Hasil analisa menunjukkan bahwa arsitektur tradisional Nusantara sangat kaya akan makna filosofis dan nilai budaya yang terintegrasi dalam bentuk fisik bangunan. Setiap elemen, seperti atap, tiang, dan ornamen, bukan hanya berfungsi struktural tetapi juga mempunyai simbolisme yang merefleksikan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas. 

Fungsi sosial rumah adat sebagai pusat kegiatan budaya dan adat juga menjadi aspek penting yang menguatkan identitas lokal sekaligus menjaga kelangsungan tradisi melalui generasi. Fenomena ini menegaskan bahwa arsitektur Nusantara adalah kekayaan budaya yang memiliki relevansi tinggi untuk dipelajari dan dikembangkan dalam konteks modern dan keberlanjutan lingkungan. 

Penelitian ini menghadapi keterbatasan terkait akses data lapangan yang seringkali sulit karena letak geografis rumah adat yang tersebar di daerah terpencil. Selain itu, kurangnya dokumentasi tertulis dan kepercayaan tradisional yang bersifat lisan dapat membatasi kelengkapan data. Faktor modernisasi dan perubahan gaya hidup juga mengancam pelestarian arsitektur tradisional yang membuat beberapa bentuk asli mulai punah atau tertransformasi.

Dosen: Amanda Rosetia, Ph.D.

Tim Penulis Mahasiswa Universitas Internasional Batam: Michelle Teo Kim Giok, Suria Zerlita, Lilik Sri Rahayu, Muhammad Fattakhur Rozak Alfirdaus, Neil Jack Andrews, Anis Jamilatul Rahmah dan Ersyd Kamalia Adnan.

References

Jefri Ardi. (2024, December 5). Arsitektur Tradisional Indonesia: Memahami Filosofi dalam Setiap Bangunan. Https://Radartv.Disway.Id/Read/22860/Arsitektur-Tradisional-Indonesia-Memahami-Filosofi-Dalam-Setiap-Bangunan/15.

Asla Eva Setya. (2025, September 5). Arsitektur Tradisional Nusantara yang Punya Filosofi. Menyelami Rumah Adat dan Nilai Budaya. Https://Bali.Viva.Co.Id/Wisata/5977-Arsitektur-Tradisional-Nusantara-Yang-Punya-Filosofi-Menyelami-Rumah-Adat-Dan-Nilai-Budaya.

al Khoriah Etiek Nugraha. (2022, May 29). Ritual Pendirian Rumah Adat Tongkonan Toraja, Korbankan Babi-Kerbau. Https://Www.Detik.Com/Sulsel/Budaya/d-6101048/Ritual-Pendirian-Rumah-Adat-Tongkonan-Toraja-Korbankan-Babi-Kerbau.

Kilas Sultra. (2023, July 25). Rumah Tradisional Moronene. Https://Kilassultra.Com/Rumah-Tradisional-Moronene/.

Sabono, F. (2017). KONSEP RUMAH TUMBUH PADA RUMAH ADAT TRADISIONAL DUSUN DOKA, NUSA TENGGARA TIMUR. 14(1).

Prasetyo, Y. H., Astuti, S., Perumahan, P. L., Badan, P., Kementerian, L., Umum, P., Rakyat, P., Panyawungan, J., Wetan, C., & Bandung, K. (2017). EKSPRESI BENTUK KLIMATIK TROPIS ARSITEKTUR TRADISIONAL NUSANTARA DALAM REGIONALISME Tropic Climate Form of Nusantara Traditional Architecture’s Expression in Regionalism (Vol. 12, Issue 2).

Terkini