Satgas Digdaya Latih Puluhan Disabilitas Aceh Tamiang Simulasi Tenda Darurat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:05:31 WIB
Peserta penyandang disabilitas mengikuti simulasi pendirian tenda darurat di Kampung Pertamina EP Rantau, Aceh Tamiang.

JAGATPUBLIK.COM — Sebanyak 40 penyandang disabilitas di Aceh Tamiang mengikuti simulasi pendirian tenda darurat yang digelar BPBD setempat. Pelatihan dalam program Satgas Digdaya itu berlangsung di Kampung Pertamina EP Rantau, Selasa (27/10/2026), di tengah gerimis musim hujan.

Instruktur BPBD membagi peserta ke dalam beberapa tim, masing-masing terdiri dari empat orang. Tenda darurat yang masih terlipat rapi harus berdiri kokoh dalam hitungan menit setelah aba-aba waktu 3, 2, 1 diberikan.

Kain dibentangkan, tiang disusun, lalu setiap bagian disatukan. Ada yang memasang rangka, menarik tali, ada pula yang memastikan setiap sudut tenda berdiri tegak. Tak sampai setengah jam, tenda itu pun berdiri sempurna.

Belajar dari Pengalaman Erna

Salah satu peserta, Erna, menyelesaikan simulasi dengan cekatan. Perempuan 46 tahun itu telah kehilangan kaki kirinya akibat kecelakaan saat berusia 24 tahun. Di balik ketenangannya, tersimpan pengalaman yang nyaris merenggut nyawa.

Rabu malam, 26 November 2025, sekitar pukul 19.00 WIB, hujan turun deras ketika Erna duduk di ruang tamu rumahnya di Dusun Bukit Suling, Kecamatan Rantau. Ia merasa aman karena ruang tamu tidak berbatasan langsung dengan bukit. Bagian rumah yang berdekatan dengan lereng justru ada di kamarnya.

"Awalnya terdengar suara seperti benda berkelinting dari arah luar," kata perempuan berdarah Aceh tersebut.

Erna mencoba mencari tahu. Dinding kamar sudah hancur dihantam longsoran tanah. Bukit di belakang rumah seolah runtuh dan menyeret apa saja yang berada di bawahnya.

"Begitu tahu longsor, kami langsung keluar," kenangnya.

Empat Puluh Menit di Tengah Lumpur

Erna tidak sendiri. Ibunya yang berusia 68 tahun ikut berjuang menyelamatkan diri. Saat keduanya keluar rumah, air sudah setinggi paha orang dewasa. Kanan dan kiri jalan sudah tertumpuk tanah bekas longsor.

"Dengan lumpur tebal, saya cari jalan keluar dengan tongkat saya. Ibu saya dari belakang terus tarik baju daster saya. Karena kondisinya benar-benar gelap," ucapnya berlogat Aceh.

Mereka berjalan perlahan, tertatih-tatih, melewati air yang semakin tinggi. Sekitar 200 meter dari rumah, keduanya sempat hendak berlindung di rumah tetangga. Niat itu diurungkan setelah melihat air terus naik dan pohon durian di sekitar lokasi dikhawatirkan tumbang.

"Kata Ibu saya pohon durian itu mau tumbang, jadi cari saja yang lebih aman. Akhirnya saya cari tempat yang lebih aman," katanya.

Sekitar 40 menit dibutuhkan untuk menemukan lokasi yang membuat mereka aman. Malam itu, Erna bukan hanya berjuang menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menjadi tumpuan keselamatan ibunya.

Tiga Bulan Mengungsi dan Trauma yang Tersisa

Erna dan ibunya mengungsi selama tiga bulan karena kondisi rumah yang hancur. Mereka tidur gelap-gelapan dan tak pernah merasa aman. Kini keduanya kembali ke rumah yang rusak dan memperbaikinya dengan keterbatasan biaya.

"Kalau lihat cuaca seperti ini hujan kembali turun terus-menerus, saya masih trauma. Cuma kita serahkan saja kepada Allah," katanya.

Bukan hanya hujan deras yang membuatnya gelisah. Angin kencang pun bisa membangkitkan kembali ingatannya pada bencana besar tahun lalu.

Bekal Baru untuk Warga di Tanah Rawan

Melalui Satgas Digdaya, Erna dan peserta lain kini lebih bersiaga. Ia sudah menyiapkan tas siaga bencana berisi kebutuhan dasar agar bisa bergerak cepat jika bencana datang lagi.

Simulasi pendirian tenda menjadi bagian dari pembekalan itu. Keterbatasan fisik tidak menghalangi peserta menyelesaikan setiap tahapan, dari merangkai rangka hingga memastikan tenda berdiri kokoh.

Bagi warga yang tinggal di kawasan rawan longsor dan banjir seperti Aceh Tamiang, kemampuan bertahan semacam ini menjadi bekal harian. Cuaca yang belum bersahabat membuat kesiapan bukan pilihan, melainkan keharusan.

Terkini